Minggu, 29 April 2018

puisi di hari senin

aku tidak menulis puisi hari ini
tanganku kaku
lidahku kelu
mataku sayu
aku sedang sibuk berharap, dalam setiap lirih munajatku

ya tuhan,
maha terang dalam harap
atas nama senyummu yang purnama
limpahilah aku mimpi kenangan
hindarkan aku dari liciknya sepi
bimbinglah aku dalam kata-kata
tuntunlah aku menuju puisi, yang mulai nihil dari goresan jemari.


amin.

godean, 29 april 2018

Rabu, 25 April 2018

ziarah

ada banyak sajak-sajak sapardi yang bagus. buatku, semuanya bagus. tidak hanya sapardi, banyak sajak-sajak karya penyair lainnya yang aku suka. tentu saja, hal ini menjadi relatif jika sudah menyangkut selera. aku tidak akan berkata apa yang aku suka itu selalu bagus. setidaknya, jika ada pertanyaan, kenapa aku suka suatu karya, aku dapat menjelaskan alasannya kepadamu, dalam suatu lingkaran diskusi nyaman dan tenang. ditambah aroma kopi yang khas, mungkin.

sungguh, ini tidaklah menjadi masalah bagiku. namun, aku sedikit terganggu dengan selera orang-orang, utamanya dewasa ini. dimana mereka cenderung menyukai sajak-sajak cinta sapardi. sapardi mengungkapkan semua rasa cintanya dalam setiap sajaknya. aku tahu itu, kita, nyatanya hanya perlu mencari celah untuk masuk ke dalam pikirannya. aku pernah membaca satu sajaknya, perlu berkali-kali membacanya berulang. meski begitu, tidak ada satu kesimpulan yang mampu aku tangkap dari sajak itu. aku merasa kecil. 

ada satu sajaknya yang aku baca berulang, lebih dari lima puluh kali rasanya. kalian boleh berpikir aku hanya sedang membual. tapi percayalah, dari semua sajak sapardi yang telah aku baca. ini adalah favoritku!

Ziarah

Kita berjingkat lewat 
Jalan kecil ini 
Dengan kaki telanjang: kita berziarah 
Ke kubur orang-orang yang telah melahirkan kita 
Jangan sampai terjaga mereka! 
Kita tak membawa apa-apa. Kita 
Tak membawa kemenyan atau pun bunga-bunga 
Kecuali seberkas rencana-rencana kecil 
(yang senantiasa tertunda-tunda) untuk 
Kita sumbangkan kepada mereka. 
Apakah akan kita jumpai wajah-wajah bengis, 
Atau tulang belulang, atau sisa-sisa jazad mereka 
Di sana? Tidak, mereka hanya kenangan 
Hanya batang-batang cemara yang menusuk langit 
Yang akar-akarnya pada bumi keras 
Sebenarnya kita belum pernah mengenal mereka, 
Ibu-bapa kita yang mendongeng 
Tentang tokoh-tokoh itu, nenek moyang kita itu, 
Tanpa menyebut-nyebu nama 
Mereka hanyalah mimpi-mimpi kita, 
Kenangan yang membuat kita merasa 
Pernah ada
Kita berziarah, berjangkitlah sesampai 
Di ujung jalan kecil ini, 
Sebuah lapangan terbuka 
Batang-batang cemara 
Angin 
Tak ada bau kemenyan tak ada bunga-bunga, 
Mereka lelah tidur sejak abad pertama, 
Semenjak hari pertama itu, 
Tak ada tulang belulang tak ada sisa-sisa jasad mereka. 
Ibu bapa kita sungguh bijaksana, terjebak 
Kita dalam dongengan nina bobok 
Di tangan kita berkas-berkas rencana 
Di atas kepala
Sang surya.

Sapardi Djoko Damono
Hujan Bulan Juni - 1967

Selasa, 24 April 2018

pelupa

ada yang pernah berujar,
sesial-sialnya orang adalah yang lupa nama-nama puisi

aku pun menulis puisi setiap hari,
untuk diriku sendiri

aku membaca tanda
aku mengeja cuaca
aku menulis perihal

terkadang puisi tidak harus indah
tidak harus memiliki rima

aku menulis untuk diriku sendiri
karena aku paham,
tidak akan ada yang mau;

membaca tanda
mengeja cuaca
menulis perihal
selain diriku sendiri,


lelaki yang setiap malam berbicara dengan batu-batu nisan, ketika bulan menggigil di pelataran

godean, 24 april 2018

Jumat, 20 April 2018

persimpangan jalan sunyi

ketakutan yang sama; apakah semua masih sama? yogyakarta , 17 juli 2019