Kamis, 14 Juni 2018

malam lebaran

tidak ada yang spesial di hari ini
aku hanya menemani ayah di ruang tamu,
terbujur kaku
menjelang tengah malam,
aku keluar rumah
langkah kakiku terhenti di halaman
tiba-tiba tercium semerbak wangi ibu
padahal dia mandi bunga lima tahun yang lalu
aku tarik nafas dalam-dalam
tercium olehku aroma rindu

tidak ada yang spesial di hari ini
aku sudah berteman akrab dengan sepi

yogyakarta, 14 juni 2018

Selasa, 05 Juni 2018

kangen itu jahat, jendral!

malam ini di suatu kedai kopi modern, kami berkumpul lagi. tidak genap, memang. sebagian diantara kami terpisah di kota lain. dari dua belas yang tersisa, empat diantaranya merantau menyebar di beberapa kota lain. sementara delapan lainnya masih setia menghuni kota yang konon katanya berhati nyaman. malam ini, tujuh diantara kami, memutuskan berkumpul dan berserikat di kedai kopi modern -yang kopinya tidak jauh lebih enak dari warung kopi jawatimuran-- ini.

kami dipertemukan delapan tahun yang lalu dalam sebuah padepokan jurnalistik suatu unit kegiatan mahasiswa di universitas negeri yogyakarta, namanya; lembaga pers mahasiswa ekspresi (lpm ekspresi). padepokan tersebut yang akhirnya mendekatkan kami satu sama lain. tempat ngangsu kawruh ilmu jurnalistik, tempat bersosial, dan belajar menghargai perbedaan.

seperti halnya persahabatan sewajarnya, pejalanan kami dibumbui pula dengan drama, konflik, pertentangan pendapat. namun, kami punya cara yang elegan yang dapat menyelesaikan semuanya; diskusi. bahkan, kami sepakat bahwa diskusi-diskusi imajiner yang kami buat (komunitas cinta membaca, komunitas suka foto, kajian jum'at malam, komunitas cinta menulis) sama pentingnya dan setara kedudukannya dengan produk-produk jurnalistik yang kami buat. disitu, kami menyadari bahwa perbedaan dan pertentangan dalam bentuk apapun dapat dibicarakan dan dicari solusinya. khusus akan hal satu ini, saya merasa bersyukur telah dibesarkan oleh rumah mungil yang terletak di lantai dua gedung student center universitas negeri yogyakarta ini.

setelah menjalani proses jenjang belajar tiga tahun di ekspresi, kami mulai memilih jalan kami sendiri. kami mulai jarang bertemu satu sama lain. beruntung ada platform jejaring sosial bertukar pesan seperti whatsapp, kami tidak kehabisan sarana bersilaturahmi.

tahun pertama tidak jalan bersama mereka memang terasa berat. post power syndrome, perasaan kehilangan sesuatu atas hal-hal yang menjadi rutinitas sebelumnya, sungguh begitu terasa nyata. dari tujuh hari dalam seminggu, tidak kurang dari lima hari saya makan siang selalu dengan azka, rekan satu jurusan dan satu angkatan di ekspresi. selalu merasa rindu akan proses kerja bersama garap buletin atau buku sampai menginap di gedung student center, hingga tidak mandi seharian. kangen ngerjain inas yang memang di antara kami hanya dia yang paling asyik dibully. kangen galaknya rista, atau kangen diskusi ngotot-ngotot dengan fendi, aufa, rizal, jaka. atau kangen sesi curhat dengan kepala sekolah kami di ekspresi (kepala sekolah adalah istilah untuk pimpinan psdm di lpm ekspresi), rima. atau kangen ekspresi wajah aya, yang tentu saja akan diadili pertama kali ketika evaluasi karya oleh semua anggota lpm ekspresi. atau kangen mengejek delvira jika tim kesayangannya, liverpool, menelan kekalahan di malam sebelumnya. saat itu, liverpool memang ditasbihkan menjadi tim medioker papan tengah, jadi ya maklum jika delvira menjadi bulan-bulanan kami. jaka, rizal, selalu ada saja perdebatan absurd di antara saya dan mereka yang tidak berujung solusi, hahaha.

selepas tahun pertama, saya kemudian berpikir bahwa kehilangan itu pasti. momen-momen yang tidak dapat kamu ulang kembali, adalah suatu keindahan atas memori dalam hidup. kamu harus membiasakan intensitas momen itu berkurang seiring jalannya waktu. saya mulai membatasi pertemuan-pertemuan kecil dengan mereka. tahun demi tahun, kami saling terbiasa untuk jarang bertemu satu sama lain, meskipun mayoritas kami masih dalam satu kota sekalipun. agaknya, ini merupakan solusi terbaik untuk kami. pembatasan intensitas bertemu inilah yang akhirnya justru membuat pertemuan kami semakin terasa spesial. 

saya selalu merasa lega yang luar biasa setiap bertemu dengan mereka. seperti halnya puasa sebulan dibayar tuntas di hari yang fitri. pertemuan kami, mampu membangkitkan memori-memori indah lampau. lengkap dengan momen-momen berkesan kami dulu. obrolan mengalir begitu saja, perdebatan dan diskusi. 

tidak ada standar pasti akan indah dan tidaknya puisi. kau masih dapat memperdebatkan mana prosa yang bagus dan tidak, namun puisi, kau tidak dapat membuat satu standar pasti mana puisi yang bagus. setiap orang memiliki puisinya sendiri.


tahukah kalian, bagiku, mereka adalah puisi; kumpulan memori yang diceritakan dengan imajinasi dan tekniknya masing-masing.

kopitu, 2 juni 2018

persimpangan jalan sunyi

ketakutan yang sama; apakah semua masih sama? yogyakarta , 17 juli 2019