Minggu, 12 November 2017

aku sama dengan ayahmu

aku kerap berkata-kata di hadapan kaca
aku kerap berkaca-kaca di hadapan kata

suatu ketika di hadapan kaca,

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

kepada setiap janji yang terlantarkan

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

kepada pagelaran waktu yang hanya berakhir sebagai dagelan

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

kepada kebohongan yang terlontarkan

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

setiap keputusan ialah kasih sayang Tuhan
setiap pertemuan
bahkan perpisahan

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

jangan pernah biarkan keburukan bersemayam dalam dirimu,
kamu adalah anak kesayangan Tuhan

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

maafkanlah,
maafkanlah dia

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

memaafkan adalah nyaman yang tenang
ruang dari kenang
rumah dari kasih sayang

kamu tidak berhak menyimpan dendam dalam hatimu
kamu sama sekali tidak berhak atas itu

ingatlah ini, sayangku;
dalam hidup,
penting untuk kamu menjadi
penjual dan pembeli yang baik

kamu,
tetaplah menjadi baik

di hadapan kaca, aku melihat diriku
ternyata aku sama dengan ayahmu

gunungkidul, 11 november 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

persimpangan jalan sunyi

ketakutan yang sama; apakah semua masih sama? yogyakarta , 17 juli 2019