Senin, 06 November 2017

air mata pelangi

puisi lahir pada setiap hati yang sunyi dan sepi
sedangkan diriku ini bagai sapardi tanpa puisi

puisi adalah air mata pelangi,
ibu dari warna-warni
merah kuning hijau dan galau

pada suatu malam
anak kata berpacaran di halaman depan
mereka bermesraan
mabuk sinar rembulan

katak-katak bersorak
dadaku semakin sesak
di dalamnya
beranak-pinak sajak-sajak

lamunanku menuju sore kemarin
seorang anak gadis memberiku gulali

gula-gula rasa kangen dan rindu
gula-gula warna pelangi
merah kuning hijau dan galau

yogyakarta, 28 oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

persimpangan jalan sunyi

ketakutan yang sama; apakah semua masih sama? yogyakarta , 17 juli 2019