di atas bukit,
ketinggian membuat kita kian kecil
angin lembah membuatmu menggigil
aku genggam jemarimu hingga malam mengerdil
katamu,
aku jadi ingat ibu
aku kerap dekap ibu dari belakang
di ranjang itu aku merasa tenang
kataku,
aku adalah ibumu
malam ini kamu akan baik-baik saja
meski aku sendiri luluh di hadapan cuaca
selepas pelukan semalam,
kita sambut hangat pagi yang sama
jemarimu masih di genggaman yang sama
aku berhasil temukan rumahmu,
disana aku bertemu dengan ibumu
tempat bernaung segala tabahmu
katamu,
dapatkah aku tinggal di rumahmu?
rumah yang kamu buat dari tumpukan rindu
wahai kamu,
aku terus menabung rindu dan kenang
aku hanya ingin pulang ke rumah dengan tenang
sleman, 1 syawal 1440 hijriyah
Selasa, 04 Juni 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
persimpangan jalan sunyi
ketakutan yang sama; apakah semua masih sama? yogyakarta , 17 juli 2019
-
saat kau ingin mengingatku tidak akan lagi mampu kau membacaku tersisa hanya abu tubuhku kelak akan kau tulis ulang puisiku kau ukir di ...
-
cahaya itu semakin menjauh namun aku jauh dari teduh ku biarkan kau meraba-raba tanpa kuberi kau aba-aba agar tidak tergesa agar teta...
-
maaf, aku bukan bank perkreditan rindu kalau kamu simpan kangen dalam waktu tertentu berharap lebih pada bunga tidurmu, kamu keliru maa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar